Senin, 27 Oktober 2008

ESENSI SUMPAH PEMUDA


ESENSI SUMPAH PEMUDA

Sumpah pemuda biasanya selalu di peringati dan dimaknai dengan janji para pemuda jaman dahulu untuk bersatu bahasa, satu negara, satu tanah air yaitu Indonesia, kita sering keliru dengan hanya menafsirkan arti harfiahnya saja tanpa dapat menangkap esensi dari sumpah pemuda itu sendiri.

kita selayaknya ingat dan menyadari bahwa saat para pemuda bersumpah mereka tidak melepaskan indentitasnya masing masing, di sebut jong java, jong selebes dan seterusnya, artinya sumpah itu di ucapkan dengan kesadaran akan identitas kedaerahannya masing masing, bahwa mereka saat itu menyadari bahwa yang ingin dicapai bukanlah menghilangkan akar budaya masing masing, melainkan dengan kekuatan indentitas daerah dan budaya masing masing para pemuda menyatukan diri dan saling mengikat dengan menyatakan tekad untuk bersatu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.

kekuatan budaya masing masing yang di jaga dan disadari dengan baik membuat para pemuda setara mewakili daerahnya masing masing, membuat para pemuda pada masa itu mempunyai indentitas untuk mewakili setiap daerah asalnya, membuat semuanya mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mengangkay sumpah sebagai pemuda dalam rangka mempersatukan Indonesia dalam kerangka NKRI.

saat itu kita sebenarnya tidak banyak yang menyadari esensi dari sumpah pemuda itu sendiri, bahwa sebenarnya sumpah pemuda itu bukan di maknai dengan mendesak orang agar mengunakan bahasa Indonesia saja, melainkan dalam arti yang luas justru kita harus mampu menjadikan NKRI ini sebagai wadah bagi berkembang dan terlindungnya berbagai budaya anak bangsa yang membentuk indentitas NKRI.

jika kita saat ini sebagai anak bangsa tidak mau belajar dari para pelaku sumpah pemuda pada masa itu dengan mulai menghargai keunikan budaya masing masing etnis termasuk bahasa daerahnya masing masing maka kita sebenarnya mengingkari sumpah pemuda itu sendiri dengan tidak mengakui ke Indonesiaan yang tercermin dalam kekayaan budaya yang unik pada setiap elemen bangsa kita.

para pelaku sumpah pemuda pada masa itu setelah melakukan ikrar sumpah pemuda dam kemudian pulang kedaerah dan rumahnya masing masing tentu tidak bicara dengan nenek atau kakeknya bahkan dengan orangtuanya atau warga sekampungnya dengan bahasa Indonesia jika memang lingkungannya masih familiar dengan bahasa daerah atau nenek kakek dan orangtuanya belum fasih berbahasa Indonesia. tentunya mereka, para pemuda pada masa itu tetap mempergunakan bahasa daerahnya masing masing.

menurut saya ensensi sumpah pemuda sudah saatnya kita praktekan mulai sekarang, marilah kita menjadi bangsa yang menyediakan tempat untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai budaya milik kita termasuk keunikan bahasanya.

di Kalimantan Barat saja kita bisa melihat bahwa 3 puak besar disini saja mempunyai bahasa daerah yang unik dan menarik, etnik Melayu ada bahasa Melayu Pontianak, bahasa Melayu Sambas, Melayu Sanggau dll, etnik Dayak memiliki bahasa Dayak yang sangat banyak jumlahnya, berbeda dialek dan bahasa hampir pada tiap anak sungai, ada bahasa Dayak Ahe, Kanayant, Kantu, Mualang, bekati dll etnik Tionghoa berbeda bahasa dan dialeknya, ada bahasa Tio ciu, bahasa Khek Pontianak, bahasa Khek Singkawang dll.

kita tidak perlu kuatir mengenai perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Bangsa dan sebagai Bahasa Nasional, sebagai bahasa indentitas bangsa Indonesia, sebab bahasa Indonesia memang sudah menjadi kebutuhan nasional kita bersama.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang indah dan sangat baik untuk dipergunakan dalam penulisan ilmiah maupun sastra, jika dibandingkan dengan bahasa Malaysia saat ini, kita boleh bangga karena Bahasa Indonesia terbukti sangat elegan dan bagus jika dibandingkan dengan Bahasa Malaysia yang bercampur aduk dengan bahasa inggris dan terdengar anek tata bahasanya. kita patut bangga dengan kemampuan bahasa Indonesia dalam berbagai bidang, terbukti bahwa lagu lagu produk Indonesia seringkali laku keras di Malaysia jika dibandingkan lagu yang memakai bahasa Malaysia, ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia lebih indah dan mudah ditata bahkan dalam produk seni semisal lagu, novel atau puisi.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang kami sekeluarga pakai dalam komunikasi sehari hari baik didalam rumah maupun di luar rumah, namun jika bicara dengan nenek dan kakek serta orang lain yang kebetulan tidak begitu fasih dalam bahasa Indonesia saya tetap mengunakan bahasa Tionghoa, karena tujuan bahasa adalah supaya suatu komunikasi dapat berjalan dua arah dengan baik, saya berbicara dengan orang bukan untuk mengajarinya bahasa Indonesia melainkan supaya mereka paham apa yang saya katakan, apa yang ingin saya sampaikan pada mereka.

saya juga fasih mengunakan bahasa Melayu Pontianak, sedikit bahasa Melayu Sambas, sedikit bahasa Dayak Ahe, Dayak Kantu dan Dayak bekati, sedikit bahasa Khek Pontianak dan bahasa Khek Singkawang, kemahiran berbahasa ini sangat membantu saya untuk lebih akrab dan mempermudah komunikasi terutama dengan orang yang sudah tua dan saat berada di daerah, saya paham betul kata bijak "bahasa adalah kunci pembuka hati"

bukankah orang bisu yang sepatah katapun tidak bisa mengucapkan bahasa Indonesia akan sangat terzalimi jika di katakan / dicap kurang berjiwa nasionalis dan tidak memiliki perasaaan berkebangsaan Indonesia hanya karena tidak bisa berbahasa Indonesia.

Salam Hangat,

Andreas Acui Simanjaya
Calon DPD RI dari Provinsi Kalimantan Barat.
email andreasacui@yahoo.com

Jumat, 10 Oktober 2008

PILWAKO KOTA PONTIANAK

PILWAKO KOTA PONTIANAK

Ada yang bertanya kepada saya apa terjadi pada kota ini pasca Pilwako ? Menurut saya banyak pihak yang mempunyai pertanyaan yang sama, semua ingin tahu apa yang terjadi pasca Pilwako, karena ini adalah Pilwako perdana dengan sistim pemilihan langsung, one man one vote langsung dari rakyat.

Yang ada dalam pikiran saya mengapa banyak pihak yang betrtanya soal ini, apakah ini artinya banyak pihak yang meragukan kedewasaan berpolitik di Kota Pontianak ? Atau hanya meragukan kedewasaan berpolitik para kandidat ? Atau lebih sederhana saja yaitu ada kedewasaan kandidat yang di ragukan ?

Menurut saya, dinamika politik di kota Pontianak akan berjalan alamiah dan apa adanya, para pemilih yang waras akan menentukan pemimpinnya yang layak menurut kebutuhan komunitas di Kota tercinta ini.

kemampuan antar etnik di Kota ini untuk saling berinteraksi dengan baik seharusnya merupakan keniscayaan, jika berdasarkan kenyataan sejarah kita dapat hidup berdampingan sejak ratusan tahun yang lalu, lantas mengapa hari ini kita mesti kuatir bahwa jalinan yang terbentuk sekian lama akan rela kita hancurkan.

kita semua pada dasarnya menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk semua pihak, jabatan Walikota / wakil walikota tidak dapat dianggap merepresentasikan segala kebutuhan komunitas,

Siapapun Walikotanya, bagi saya sama saja, selama sang pejabat Walikota dapat berbuat maksimal untuk kemajuan kota Pontianak dan menghasilkan sinergi yang baik dengan jajarannya untuk meningkatkan kesejahteraan warga Kota ini.

apapun yang terjadi pasca Pilwako nanti hanya akan merupakan reposisi masing masing kelompok etnik untuk saling menyesuaikan.

jika kita sibuk berseteru dengan sesama penghuni kota ini, maka sama saja mengelar sebuah panggung ketidakdewasaan diri dan kelompoknya di panggung Lokal, Nasional maupun internasional.

apa yang terjadi kelak akan merupakan indikator seberapa jauh peradaban dan kebudayaan masing masing etnik yang begitu di agung agungkan berguna bagi kemajuan bangsa dalam kerangka Nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah dan Bangsa Indonesia.

Salam Hangat,

Andreas Acui Simanjaya
email andreasacui@yahoo.com

2008 Oktober 7 20:34

Hapus

Rabu, 08 Oktober 2008

Ikan Hias Air Tawar Asal Kalimantan Barat (West Borneo)





Ikan Hias Air Tawar Asal Kalimantan Barat (West Borneo)

Pernah pada satu masa ketika saya berada dalam sebuah bis dalam perjalanan pulang ke Kota Pontianak dari Kabupaten Kapuas Hulu, tepatnya Putussibau, bis sederhana tanpa penyejuk udara dan jalan yang tidak mulus membuat semua penumpang tampak kusut, sebagian bahkan berdebu di ujung rambut dan bagian baju yang menghadap jendela yang terbuka.

Saya sibuk menjaga sebuah kotak kardus yang saya letakan dibawah tempat dudukku dan diapit kedua kaki, dari sela kotak kardus sudah separuhnya basah, terus menetes air yang merembes membasahi lantai bis yang berlajur lajur, kebetulan tempat dudukku ada di bagian depan disamping pintu masuk, jika diurut dari depan artinya saya duduk di urutan kedua pada deret bagian sebelah kiri.

setiap kali bis berhenti, apakah menurunkan penumpang ataupun untuk istirahat sejenak, saya bergegas mencari warung atau rumah yang menjual batu es, umumnya es diproduksi dengan kulkas di rumah tangga dalam kemasan plastik ukuran 2 Kg, satu balok es berharga Rp. 1.500 kemudian saya bergegas kembali ke Bis dan meletakan balok es tersebut di dalam kardus, dibagian atas dari sebuah kantong plastik besar yang berisi air kira kira 10 liter.

beberapa penumpang yang tertarik dengan kesibukan saya kemudian mencoba melihat apa yang terdapat dalam kantong plastik yang terdapat dalam kardus yang saya bawa, saya sudah menduga mereka pasti meyangka bahwa yang saya bawa dalam plastik ini adalah ikan Silok sebutan lokal untuk Ikan Arwana (Scleropages formosus), setelah tahu bahwa isi kantong yang saya jaga dengan berbagai kesibukan ini hanyalah berisi ikan sepat, ikan seluang dan beberapa jenis ikan kecil lainnya, umumnya mereka tertawa dan merasa aneh saja mengapa saya mau membawa ikan seperti itu ke Pontianak.

Ikan hias ini saya dapat dari hasil tangkapan penduduk yang bermukin disekitar danau Sentarum, mereka umumnya memsang bubu (alat tangkap ikan berupa ayaman dari bambu atau rotan, yang jika ikan masuk kedalam maka tidak bisa keluar lagi dan akan tertangkap dalam keadaan hidup).

IKan ikan kecil hasil tangkapan ini digunakan untuk memberi makan ikan Toman peliharaan yang terdapat dalam keramba, nah saya memilih ikan ikan yang indah warnanya dan berbentuk aneh untuk saya bawa pulang ke Pontianak sebagai isi akurium.

Sesungguhnya kekayaan perairan tawar di Bumi Borneo ini meyimpan banyak kekayaan, termasuk potensi ikan hias yang jumlahnya sangat banyak dan beragam jenisnya, entah mengapa kita tidak mampu memasarkan ikan hias ini selayaknya ikan ikan hias asal brasil yang menembus pasar ikan hias di seluruh dunia sampai ke Indonesia, hanya satu dua jenis saja andalan yang bisa kita pasarkan dengan baik yaitu ikan Silok / Arwana dan ulang uli atau Bontia.

pencemaran sungai oleh mercuri hasil petambangan liar dan bebagai cemaranisdustri serta menurunnya kualitas dan debit air akibat musnahnya hutan mempercepat hilangnya sebagaian ikan yang sebenarnya dapat menjadi potensi pemghasilan bagi penduduk di Borneo ini.

kelak kesempatan untuk menikmati indahnya ikan hias asli dari perairan lokal Kalimantan Barat bisa jadi hanya tinggal impian .....

Salam Hangat,

Andreas Acui Simanjaya
email : andreasacui@yahoo.com


TATUNG - HASIL PERJALANAN PANJANG SUATU ALKULTURASI BUDAYA






TATUNG - HASIL PERJALANAN PANJANG SUATU ALKULTURASI BUDAYA

Keberadaan Tatung di di dunia hanya terdapat di beberapa Negara, di Indonesia keberadaan Tatuung hanyabisa di saksikan di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung walaupun dalam satu batas negara keberadaanTatung di Kalimantan Barat berbeda dalam berbagai aspek dengan Tatung yang ada di Bangka Belitung.

Tatung di Kalimantan Barat merupakan bagian dari keunikan budaya Tionghoa yang telah lama tumbuh dari hasil alkulturasi dengan budaya lainnya yang terdapat di Kalimantan Barat.

Sejauh ini kehadiran Tatung terutama pada saat Cap Goh Meh telah menjadi Ikon yang menarik bagi banyak pihak, terutama para wisatawan baik lokal maupun dari manca negara.

Saya sendiri dalam berbagai kesempatan meyaksikan penampilan Tatung selalu kehabisan tempat untuk menyimpan data dalam memori card di kamera digital yang saya pakai untuk merekam berbagai atraksi dan adegan Tatung yang menarik, setiap kali meyaksikan penampilan tatung selalu ada yang menarik untuk di abadikan.

keberadaan Tatuung menurut penjelasan yang saya dari para pelaku Tatung, ternyata keberadaan mereka hanyanya berupa media / medium atau istilah lokalnya Sarung untuk roh yang merasukinya, Roh yang merasuki bisa bermacam macam, ada yang merupakan Dewa berdasarkan mitologi Tionghoa maupun berbagai tokoh lokal yang ada di Kalbar.

Roh dipanggil melalui altar persembahan dan kemudian merasuki / masuk kedalam tubuh sang Tatung, dalam keadaan sebagai medium / sarung, sang pemilik tubuh masuk dalam keadaan trance, tubuhnya bergerak dan bersuara layaknya roh yang merasukinya, kadang kadang betbahasa yang tidak dikenalnya dalan keadaan sadar, umumnya dalam keadaan trance Tatung kebal dari rasa sakit, sehingga mampu menahan berbagai tusukan yang nembus tubuhnya, kebal di papas dengan parang tajam, menaiki tangga yang terbuat dari parang dan duduk di bangku yang terbuat dari deretan parang.

Tatung adalah satu warisan budaya yang memiliki akar panjang dalam budaya Tionghoa dan Kalimantan Barat, sarat dengan suasana mistis dan bernapaskan kasanah kekayaan budaya kuno milik para leluhur tanah Borneo ini.

salam hangat,

Andreas Acui Simanjaya
email : andreasacui@yahoo.com





Kamis, 02 Oktober 2008

MERIAM KARBIT PONTIANAK




Setiap tahun saat menjelang Idul Fitri / hari Raya Lebaran di Kota Pontianak selalu ada sesuatu yang khas yang dinantikan banyak orang termasuk saya dan keluarga.

Suasana persiapan menyambut lebaran selalu menghadirkan perasaan khusus dalam hati saya sejak kanak kanak, mulai dari suasana memasuki bulan puasa, kegiatan teman teman sepermainan menjalankan kegiatan taraweh, permainan meriam bambu yang mengunakan minyak tanah maupun karbit sebagai amunisinya, suara takbiran yang menghadirkan perasaan senang dan ceria di pagi hari pertama lebaran, ketupat lebaran dan ketidak sabaran yang mendesak jiwa untuk berkunjung kesanak keluarga terdekat yang merayakan Lebaran, memang sebagian keluarga kami merayakan Lebaran, keluarga yang wajib kami kunjungi adalah sepupunya nenek yang menikah dengan orang Tuan Tuan.

menjelang akhir bulan puasa seluruh kota sudah dapat mendengarkan dentuman Meriam Karbit yang gelegar suaranya menghadirkan satu bagian dari ciri khas berlebaran di Kota Pontianak.

Meriam Karbit terbuat dari batang kayu bulat yang di belah dan dilubangi bagian dalamnya, kemudian di tangkupkan kembali dan diikat dengan rotan supaya kuat, sepanjang sungai kapuas di Kota Pontianak, terutama di sekitar Jembatan Kapuas berjejer kelompok kelompk meriam dari kedua belah sungai, saling berhadap hadapan dan siap siap berperang ! ya ! perang !

Perang suara dan kekompakan kelompok yang memiliki meriam, setiap kelompok biasanya terdiri dari 5 meriam bahkan ada yang sampai belasan buah, diawaki 15 sampai 30 orang yang biasanya mewakili gang gang atau RT yang berada di sepanjang sungai, ada juga yang merupakan gabungan dari beberapa gang atau RT.

Tahun ini saya kembali mendatangi tempat permainan meriam di tepian sungai Kapuas, kali ini saya masuk dari Gang Kuantan, sampai di ujung Gang saya memarkirkan motor dan berjalan kaki di gertak (jembatan) kayu menuju tempat permaian Meriam Karbit berlangsung.

Tahun ini suasananya berbeda, ada meriam yang di cat merah dan diberi logo PDI Perjuangan, ada lagi berwarma biru muda kombinasi merah berlambang partai Barnas (Barisan Nasional), maklum dalam era banyak partai maka semua kesempatan di manfaatkan partai yang jeli untuk mencari simpati dan dukungan.

"Bang numpang nonton meriam ya " sapaku pada kelompok anak muda yang berkumpul di jejeran meriam yang ada, "Sile jak Bang" sambutan hangatpun datang dalam dialek Melayu Pontianak, akupun larut dalam suasana berbincang berbagai hal seputar Meriam ini, berapa banyak karbit, berapa banyak air dan cara menyulut meriamnya.

beberapa orang mengisi air 1 ember dan memasukan gumpalan karbit yang mirip batu kedalam lubang meriam, kemudian menutup lubang meriam dengan koran basah supaya uap karbit yang terbentuk tidak lari terbawa angin, sejenak menunggu Meriam karbit siap di ledakan ...

"Ayo Pak, silakan kalau mao cobe meriam ini" ajakan pemuda tersebut dilakukan sambil menyodorkan obor kecil yang menyala kepada saya, sejenak saya ragu karena tak enak kalo sampai menganggu keasyikan mereka bermain meriam, disisi lain saya juga cukup kuatir dengan efek bunyi yang bakal terjadi.

"tak ape Pak, tadak bahaye, kalau bahaye udah banyak dah korban di sinek ...." sekali lagi anggota pemuda ini meyakinkan saya.

dengan rasa bangga saya menerima uluran obor ini dan bersiap siap berdiri di samping meriam yang akan saya sulut, disebelah saya juga ada beberapa anak muda berdiri dengan obornya masing masing, jumlah meriam yang ada dikelompok ini sekitar 12 buah, tetapi yang saat ini diisi karbit sekitar 5 buah.

tutup koran basah di lubang penyulut di buka dan seorang pemuda di samping kiri saya menyulutkan obornya sejurus kemudian "DEBUUUUM !!!!" suara meriam mengelegar membuat telinga ini berdenging, kemudian terdengar derak suara pantulannya dari seberang sungai, efek suaranya memang lebih keras di seberang sana yang dihadapi dengan moncong meriam karbit ini.

"cucul pak ..." seru seseorang kepadaku agar tidak kehilangan momentum dalam rangkaian bunyi meriam yang kami mainkan ini, Aku menyulutkan api kelubang kecil di batang kayu disampingku, bunga api merah keluar dari lubang itu dan ledakan keras terdengar, sejenak badanku terhenyak dan obor penjulut meriampun terlempar kebelakang, jatuh kedalam sungai Kapuas ....

"maaf maaf .... sampai jatok nih apinya .." aku merasa tak enak karena telah menjatuhkan obor tersebut ... "tak ape pak, maseh banyak bah ..." sambutan hangat dan suasana bersahabat ini melekat di hatiku, senang karena di terima baik dalam komunitas ini padahal baru sejenak saja saya hadir dalam kelompok ini.

sejurus kemudian saya ajak foto bersama dan saya permisi karena hari sudah menjelang malam, sudah jam 7.15 tidak terasa sudah 1 jam lebih saya di sini ...

Aku berencana akan kembali lagi esok dengan anak anakku agar ada juga pengalaman buat mereka ...

beberapa hari lagi meriam meriam ini akan di tengelamkan didalam sungai kapuas, agar kayunya awet dan tahun depan bisa dipakai lagi, maklum mencari kayu log sebesar pelukan orang dewasa bukan lagi perkara mudah di Kalimantan Barat ini, hutan kita sudah habis ....

Meriam Karbit ini merupakan salah satu daya tarik saat berlebaran di Kota Pontianak, kelak akan lebih menarik lagi jika disokong pemerintah dalam rangka meningkatkan parawisata ....

salam hangat,

Andreas Acui Simanjaya
email andreasacui@yahoo.com

Senin, 29 September 2008

KEHILANGAN KUDA


SAAT KITA KEHILANGAN KUDA
Alkisah di sebuah negeri pada jaman dahulu kala, hiduplah sekeluarga petani, keluarga kecil yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak, anak pertama lelaki dan anak kedua perempuan, mereka sekeluarga hidup dari mengarap tanah pertaniannya terutama menamam padi dan palawija dengan mengandalkan tenaga seekor kuda milik keluarga mereka yang dipergunakan untuk mengarap tanah pertanianya dan juga dipergunakan sebagai tenaga penarik gerobak untuk mengangkut hasil pertanian dan juga dijadikan sebagai tunggangan atau kendaraan bagi seluruh anggota keluarga secara bergantian untuk berbagai perjalanan yang rutin, kepasar, mengunjungi sanak saudara atau sekedar JJS alias jalan jalan sore.
Pada suatu hari keheningan pagi di buyarkan dengan teriakan dan jeritan sang istri petani, dengan suara yang gaduh dan bercampur tangisan Sang Istri berteriak “Pak, kuda kita hilang !!!.... habis sudah masa depan kita, bagaimana kita mengarap ladang dan bepergian ? aduuuh ... mengapa Kuda kita bisa hilang ? mengapa nasib kita begitu buruk ??? .....”
Pagi itu sang istri tengelam dalam keluh kesah dan tangisan karena kehilangan Kuda, satu satunya ternak kerja yang di andalkan keluarga, sang suami hanya berkata pendek “sudahlah istriku, janganlah terlalu bersedih dan kesal hati, dunia belum kiamat dengan hilangnya kuda kita”
Minggu pertama semenjak kehilangan kuda, keluarga petani ini hidup dengan beban yang lebih berat, Sang Bapaklah yang mengantikan kuda menarik bajak di ladang dan kemudian bersama sama istri dan anak mereka mendorong gerobak untuk mengangkut hasil panen ke tempat penyimpanan atau kepasar untuk di jual, dalam satu minggu saja seluruh anggota keluarga merasa sangat keletihan dengan beban kerja yang ada.
Minggu kedua, pada suatu siang yang cerah sang istri berlari sambil berteriak membangunkan suaminya yang sedang tidur, “suamiku kita adalah keluarga yang sangat beruntung !!! kuda kita telah kembali dan membawa seekor kuda lain, sekarang kita punya dua ekor kuda !!!” sambil mengosok mata dan meluruskan badan sang Suami berkata “sudahlah istriku, jangan terlalu gembira dengan apa yang kita dapatkan”
Minggu ketiga, sang istri pulang kerumah sambil menangis di iringi sekelompok orang yang membantu mengantarkan anak lelakinya “suamiku, kaki anak lelaki kita patah karena terjatuh dari kuda kita yang baru, aduuh bagaimana nasib anak kita dengan kakinya yang patah ?”
Sang suami sambil bebatkan kain yang menyatukan dua bilah papan pada kaki anak lelakinya yang patah menyabarkan istrinya, “sudahlah istriku, janganlah terlalu bersedih dan kesal hati, kaki anak kita yang patah pasti akan sembuh kembali nanti”
Minggu keempat, datanglah utusan kerajaan kedesa tempat keluarga petani tinggal dan membawa titah raja bahwa setiap keluarga harus menyerahkan anak lelakinya untuk dijadikan tentara yang akan berangkat ke medan perang, banyak keluarga yang menangis karena anak lelaki mereka di bawa untuk berperang, sang istri petani sambil memeluk anaknya kemudian berkata pada suaminya “Kita sangat beruntung suamiku, karena kaki anak kita yang patah belum sembuh maka anak kita tidak dipaksa menjadi tentara kerajaan dan pergi kemedan perang, mari kita rayakan kehahagiaan ini ..”
Suami berkata “sudahlah istriku, jangan terlalu gembira dengan keberuntungan yang kita dapatkan”
Tiga tahun kemudian pasukan kerajaan dengan panji panji kebesaran dan genderang yang bertalu talu memasuki desa, semua orang keluar untuk melihat apa yang terjadi, ternyata anak tetangga sang petani yang dulu ikut berperang telah diangkat oleh Raja sebagai Jenderal karena berjasa menyelamatkan pangeran dari ancaman musuh, seketika tetangga petani tersebut menjadi keluarga yang terpandang dan kehidupannya terjamin, lengkap dengan segala fasilitas yang diberikan oleh kerajaan.
Sang isteri petani berkata dengan masyul dan sedikit iri “Suamiku, andaikan waktu itu kaki anak kita tidak patah, mungkin saja saat ini anak lelaki kita yang menjadi jendral ....”
Sang Petani berkata “sudahlah istriku, janganlah terlalu bersedih hati, rejeki kita sudah diatur oleh yang Maha Kuasa !”
Sebulan Kemudian Sang istri dengan wajah berseri seri berlari di ladang mendekati suaminya dan berkata “ Suamiku, Betapa beruntungnya kita, anak tetangga kita yang telah menjadi jendral ternyata jatuh hati pada anak perempuan kita dan kita segera akan menjadi mertuanya jendral ...”
Sambil melepaskan capingnya dan mengunakannya sebagai kipas, sang petani meminta istrinya duduk di dekatnya dan berkata “ istriku, belumkah engkau mengerti mengenai kehidupan ini ? bahwa Tuhan maha adil dan sudah mengatur semua bagian kehidupan kita, janganlah kita terlalu cepat putus asa, bersedih atau iri hati jika tertimpa kemalangan, kurang beruntung atau melihat orang lain beruntung sebaliknya jangan terlalu gembira jika mendapatkan suatu keberuntungan atau memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, hadapilah semuanya dengan sepenuhnya percaya bahwa Tuhan yang memberikan kita kehidupan ini akan memberikan kita bagian bagian yang adil sesuai dengan usaha dan kemampuan kita mensyukuri kehidupan ini”
Memang sebagai manusia kita terkadang bingung, ada kalanya beruntungan yang kita dapat saat ini bisa berubah menjadi bencana di masa mendatang, atau namun bisa juga kemalangan yang kita dapati saat ini merupakan awal keberuntungan di masa mendatang.
Cerita ini semoga bermanfaat sebagai bahan renungan menyikapi dinamika yang pada kehidupan kita masing masing saat ini, maupun dimasa mendatang, hadapi saja semua dinamika kehidupan dengan penuh keyakinan dan percaya pada rencana Tuhan, jangan berhenti berusaha. jangan kita cepat menarik sebuah kesimpulan untuk keberuntungan dan kemalangan yang kita hadapi saat ini, mari cermatinya seluruh rangkaian kehidupan kita untuk mendapatkan sebuah kesimpulan yang hakiki.
Merupakan Kisah rakyat kuno dari suku Tionghoa Diceritakan kembali secara bebas oleh Ir. Andreas Acui Simanjaya.
Salam hangat,
Ir. Andreas Acui Simanjaya
email andreasacui@yahoo.com

KEHANGATAN KERIANG BANDONG



KEHANGATAN KERIANG BANDONG KALIMANTAN BARAT

Mendekati akhir bulan ramadhan biasanya penduduk mulai menyalakan pelita pada malam hari di sekitar rumahnya, di Kalbar tradisi ini menarik dan sebagian penduduk membuat variasi yang lebih kreatif dan sekaligus sebagai permainan untuk anak anak berupa lampion / tanglong atau di kalbar akrab disebut sebagai Keriang Bandong.

saya sedari kecil selalu menantikan saat ini, bermain keriang bandong bersama teman sepermainan semas kecil itu, ada berbagai macam bentuk keriang bandong, berbentuk ikan, kapal kapalan, pesawat, dan berbagai bentuk kreatif lainnya yang didalamnya diberi lilin, sehingga berbagai bentuk benda yang terbuat dari lidi dan bambu yang diberi kertas minyak tipis ini nampak terang seperti lentera kertas jaman dulu.

keriang bandong merupakan budaya khas di Kalimantan Barat, dan merupakan hasil pencampuran budaya dari puak puak yang ada di kalbar. pada hari cam goh meh juga di kenal permainan taglong yang di kalimantan barat juga sudah berubah bentuk seperti ikan, pesawat, kapal dan berbagai bentuk lainnya, dan saat ini antara keriang bandong dan taglong tidak ada bentuk yang memberdakannya, hanya saat memainkannya yang berbeda, tanglong pada perayaan cap goh meh dan keriang bandong saat bulan ramadan, keduanya dimainkan anak anak dan pada malam hari.

kemarin malam saya mengajak anak anak untuk memberli keriang bandong, kami membelinya sepulang dari mengunjungi Bapak (kakeknya anak anak) di Jl, Suwignyo, harga sebuah keriang bandong yang terbuat dari rangkaian lidi yang di beri kertas minya dan tangkai dari bambu antara 10 - 25 ribu tergantung dari kerumitan bentuknya.

mengenalkan berbagai permainan bagi anak anak adalah penting, di sini anak anak dapat bermain sambil belajar mengenal budaya setempat di Kalbar ini, sesampai di rumah aku memotong sebatang lilin menjadi dua bagian supaya tidak terlalu panjang dan memasangnnya di masing masing keriang bandong, kemudian anak anak riuh redah berlari membawa keriang bandongnya, mereka bermain dan larut dalam akitivitas kekayaan budaya di kalbar ini, kelak pengalaman hari ini akan memperkaya wawasan mereka dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya, kemanapun kelak mereka berada kenangan masa kecil dan sentuhannya dengan budaya akan membawa kembali untuk membangun kalimantan barat ini.

aku ingin anak anakku mengalami berbagai kekayaan budaya dikalimantan barat sebagai bagian dari akar kehidupannya, sebab sesorang yang tumbuh tanpa mengenal akar budayanya akan serupa dengan pohon yang tumbuh di padang kering, hanya sekedar bisa bertahan hidup tanpa kreativitas dan warna warni apalagi keluasan hati untuk memikirkan sesamanya.

salam hangat,

Andreas Acui Simanjaya
andreasacui@yahoo.com

Jumat, 28 Maret 2008

ANGGREK HITAM BORNEO






MUTIARA HITAM DARI KALIMANTAN
ANGGREK HITAM (Coelogyne pandurata)

Ada anggrek yang menjadi buah bibir banyak orang, seringkali menjadi ikon dari anggrek spesies yang langka dan bernilai tinggi.

Kelopak bunganya yang berwarna hijau pupus dan lidah bunga yang berwarna hitam sungguh menampilkan sosok bunga anggrek yang eksotis, apalagi jika kita berhasil menjumpai sosok anggrek berbunga indah ini tepat di habitatnya, yaitu di jantung hutan Borneo.

Warna hitam pada lidah bunga Anggrek Hitam merupakan pembawa sifat hitam yang langka, warna hitam ini menjadi sumber pembawa sifat warna hitam yang di butuhkan oleh para ahli pemuliaan tanaman untuk menghasilkan silangan baru dengan corak warna bunga yang menarik.

Secara keseluruhan penampilan Anggrek Hitam ini menarik, umbinya yang berwarna hijau terang dan mempunyai permukaan umbi yang mengkilat sangat menarik untuk di pandang mata, di setiap umbi tumbuh du ahelai daun yang kaku dan berbentuk seperti pembungkus mayang kelapa, perpaduan bentuk umbi dan dua helai daun di ujungnya mirip seperti sosok seekor ikan.
Tangkai bunga yang menjuntai kebawah dengan susunan bunga yang teratur membuat penampilan anggrek ini istimewa.

Aku menjumpai sosok Anggrek Hitam yang sedang mekar dalam perjalanan wisata ke Kota Singkawang, tepatnya di taman Bougenville, kebetulan pemiliknya suharjo juga melakoni menjual tanaman hias yang sebagian merupakan tanaman hutan sekitar Kota Singkawang yang di pasok dari para pemburu tanaman liar, saya melihat beberapa orang sibuk memindahan tumbuhan kantong semar dari keranjang dan di susun berjejer di bawah paranet, salah satu koleksinya menarik saya, yaitu anggrek hitam yang sedang berbunga !

Saya beruntung dapat meyaksikan bunga Anggrek Hitam yang baru mekar dan sehat, sosok tumbuhan dan penampilan bunganya indah sekali, ada wangi yang samar muncul dari kuntum bunga yang telah matang dan siap diserbuki, wangi bunga Anggrek Hitam ini akan semakin kuat seiring kematangan kepala putik dan benang sarinya, fungsinya untuk menarik kehadiran serangga yang akan membantu penyerbukan dengan upah setetes madu tentunya.

Anggrek Hitam merupakan kekayaan hutan Borneo yang terpendam dan tidak terjaga maksimal, seiring dengan berbagai aktivitas manusia yang menyebabkan berkurangnya areal hutan, maka semakin berkuranglah habitat dan jumlah Anggrek Hitam yang tumbuh di alam Borneo ini, sementara potensinya sebagai bunga Anggrek Hitam yang membawa sifat warna warna hitam belum dapat kita manfaatkan dengan baik untuk kemajuan pengetahuan maupun membantu pertumbuhan ekonomi Bangsa Indonesia, semua potensinya akan sangat bermanfaat jika di kaji dan di gali dengan di tunjang oleh lembaga penelitian dan para pengusaha tanaman hias, sebab jika dapat dilahirkan satu jenis saja bunga Anggrek baru hasil silangan dari Anggrek Hitam ini dan ternyata bernilai komersial, maka potensi ekonomi yang di hasilkan akan sangat besar dan berguna bagi Bangsa ini.

Anggrek Hitam bagaikan Mutiara Hitam yang terpendam dalam kerimbunan hutan Borneo yang semakin menyusut luasnya, kita mungkin saya kehilangan potensi ini setelah suatu saat mutiara hitam ini musnah bersama hilangnya hutan Borneo.

Salam hangat,

Andreas Acui Simanjaya
Email : andreasacui@yahoo.com