Kamis, 02 Oktober 2008

MERIAM KARBIT PONTIANAK




Setiap tahun saat menjelang Idul Fitri / hari Raya Lebaran di Kota Pontianak selalu ada sesuatu yang khas yang dinantikan banyak orang termasuk saya dan keluarga.

Suasana persiapan menyambut lebaran selalu menghadirkan perasaan khusus dalam hati saya sejak kanak kanak, mulai dari suasana memasuki bulan puasa, kegiatan teman teman sepermainan menjalankan kegiatan taraweh, permainan meriam bambu yang mengunakan minyak tanah maupun karbit sebagai amunisinya, suara takbiran yang menghadirkan perasaan senang dan ceria di pagi hari pertama lebaran, ketupat lebaran dan ketidak sabaran yang mendesak jiwa untuk berkunjung kesanak keluarga terdekat yang merayakan Lebaran, memang sebagian keluarga kami merayakan Lebaran, keluarga yang wajib kami kunjungi adalah sepupunya nenek yang menikah dengan orang Tuan Tuan.

menjelang akhir bulan puasa seluruh kota sudah dapat mendengarkan dentuman Meriam Karbit yang gelegar suaranya menghadirkan satu bagian dari ciri khas berlebaran di Kota Pontianak.

Meriam Karbit terbuat dari batang kayu bulat yang di belah dan dilubangi bagian dalamnya, kemudian di tangkupkan kembali dan diikat dengan rotan supaya kuat, sepanjang sungai kapuas di Kota Pontianak, terutama di sekitar Jembatan Kapuas berjejer kelompok kelompk meriam dari kedua belah sungai, saling berhadap hadapan dan siap siap berperang ! ya ! perang !

Perang suara dan kekompakan kelompok yang memiliki meriam, setiap kelompok biasanya terdiri dari 5 meriam bahkan ada yang sampai belasan buah, diawaki 15 sampai 30 orang yang biasanya mewakili gang gang atau RT yang berada di sepanjang sungai, ada juga yang merupakan gabungan dari beberapa gang atau RT.

Tahun ini saya kembali mendatangi tempat permainan meriam di tepian sungai Kapuas, kali ini saya masuk dari Gang Kuantan, sampai di ujung Gang saya memarkirkan motor dan berjalan kaki di gertak (jembatan) kayu menuju tempat permaian Meriam Karbit berlangsung.

Tahun ini suasananya berbeda, ada meriam yang di cat merah dan diberi logo PDI Perjuangan, ada lagi berwarma biru muda kombinasi merah berlambang partai Barnas (Barisan Nasional), maklum dalam era banyak partai maka semua kesempatan di manfaatkan partai yang jeli untuk mencari simpati dan dukungan.

"Bang numpang nonton meriam ya " sapaku pada kelompok anak muda yang berkumpul di jejeran meriam yang ada, "Sile jak Bang" sambutan hangatpun datang dalam dialek Melayu Pontianak, akupun larut dalam suasana berbincang berbagai hal seputar Meriam ini, berapa banyak karbit, berapa banyak air dan cara menyulut meriamnya.

beberapa orang mengisi air 1 ember dan memasukan gumpalan karbit yang mirip batu kedalam lubang meriam, kemudian menutup lubang meriam dengan koran basah supaya uap karbit yang terbentuk tidak lari terbawa angin, sejenak menunggu Meriam karbit siap di ledakan ...

"Ayo Pak, silakan kalau mao cobe meriam ini" ajakan pemuda tersebut dilakukan sambil menyodorkan obor kecil yang menyala kepada saya, sejenak saya ragu karena tak enak kalo sampai menganggu keasyikan mereka bermain meriam, disisi lain saya juga cukup kuatir dengan efek bunyi yang bakal terjadi.

"tak ape Pak, tadak bahaye, kalau bahaye udah banyak dah korban di sinek ...." sekali lagi anggota pemuda ini meyakinkan saya.

dengan rasa bangga saya menerima uluran obor ini dan bersiap siap berdiri di samping meriam yang akan saya sulut, disebelah saya juga ada beberapa anak muda berdiri dengan obornya masing masing, jumlah meriam yang ada dikelompok ini sekitar 12 buah, tetapi yang saat ini diisi karbit sekitar 5 buah.

tutup koran basah di lubang penyulut di buka dan seorang pemuda di samping kiri saya menyulutkan obornya sejurus kemudian "DEBUUUUM !!!!" suara meriam mengelegar membuat telinga ini berdenging, kemudian terdengar derak suara pantulannya dari seberang sungai, efek suaranya memang lebih keras di seberang sana yang dihadapi dengan moncong meriam karbit ini.

"cucul pak ..." seru seseorang kepadaku agar tidak kehilangan momentum dalam rangkaian bunyi meriam yang kami mainkan ini, Aku menyulutkan api kelubang kecil di batang kayu disampingku, bunga api merah keluar dari lubang itu dan ledakan keras terdengar, sejenak badanku terhenyak dan obor penjulut meriampun terlempar kebelakang, jatuh kedalam sungai Kapuas ....

"maaf maaf .... sampai jatok nih apinya .." aku merasa tak enak karena telah menjatuhkan obor tersebut ... "tak ape pak, maseh banyak bah ..." sambutan hangat dan suasana bersahabat ini melekat di hatiku, senang karena di terima baik dalam komunitas ini padahal baru sejenak saja saya hadir dalam kelompok ini.

sejurus kemudian saya ajak foto bersama dan saya permisi karena hari sudah menjelang malam, sudah jam 7.15 tidak terasa sudah 1 jam lebih saya di sini ...

Aku berencana akan kembali lagi esok dengan anak anakku agar ada juga pengalaman buat mereka ...

beberapa hari lagi meriam meriam ini akan di tengelamkan didalam sungai kapuas, agar kayunya awet dan tahun depan bisa dipakai lagi, maklum mencari kayu log sebesar pelukan orang dewasa bukan lagi perkara mudah di Kalimantan Barat ini, hutan kita sudah habis ....

Meriam Karbit ini merupakan salah satu daya tarik saat berlebaran di Kota Pontianak, kelak akan lebih menarik lagi jika disokong pemerintah dalam rangka meningkatkan parawisata ....

salam hangat,

Andreas Acui Simanjaya
email andreasacui@yahoo.com